oleh

Eksklusif, Ada Mafia Bola di PSSI? Ini Penjelasan Ratu Tisha

-Olahraga-185 views

Jakarta – Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Ratu Tisha, dipanggil oleh Satuan Tugas Anti Mafia Sepak Bola Kepolisian Republik Indonesia untuk kedua kali pada Jumat, 4 Januari 2019, di Jakarta. Pemanggilan itu berhubungan dugaan pengaturan skor sepak bola dan gambaran menyeluruh organisasi PSSI.

Sehari sebelumnya, tim Tempo secara khusus menemuinya untuk sebuah wawancara di kawasan Epicentrum, Jakarta.

Berikut kutipan wawancara Rikang, Diko Oktara, Hussein Abri, dan Aditya Budiman dari Tempodengan Ratu Tisha berkaitan dengan dugaan pengaturan skor sepak bola di Indonesia dan masalah lain yang dihadapi PSSI. Kutipan wawancaranya disajikan dalam beberapa bagian.

Bagaimana hasil pemeriksaan Satgas Antimafia Bola terhadap PSSI?

Sebelum bicara soal itu, saya harus menjelaskan terminologi dari mafia. Yang pertama, kita harus hati-hati dengan terminologi mafia. Karena, ada terminologi itu yang diartikan dengan lain dan berimplikasi secara hukum. Di sepak bola itu ada istilah kandang dan tandang. Padahal kankandang itu istilah dalam hewan. Sama dengan kita memandang istilah dalam perolahragaan seperti dewi fortuna.

Jadi harus hati-hati menggunakan kata mafia karena secara hukum mempunyai implikasi. Padahal kita menggunakannya itu untuk majas hiperbola, bagian dari tata bahasa Indonesia. Saya tak menyalahkan itu, karena itu bagian dari tata bahasa kita. Publik harus dikasih tahu tentang hal itu.

Kedua, PSSI itu regulator body. Posisinya menegakkan hukum, pembuat regulasi sepak bola. Seluruh kegiatan sepak bola yang berkaitan dengan game yang sudah dibuat FIFA, sepenuhnya PSSI yang bertanggung jawab atas itu.

Sudah lama kita menantikan kerja sama dengan Kepolisian. Sudah sangat lama, mungkin sudah sejak tahun 2010. Kita perlu sinergi yang pertama dalam hal pertandingan. Contohnya dalam hal penegakan disiplin, dengan keterbatasan infrastruktur, kita melarang orang masuk stadion, tapi CCTV saja tidak ada.

Jadi kita harus relay on person. Siapa person di luar ring stadion, yaitu polisi bareng dengan kita dalam hal pengamanan. Dalam hal penegakan integritas, kebanyakan edukasi ke fans-fans. Itu kan bagian dari edukasi ke masyarakat, yang polisi juga melakukan itu. Kita sudah lama ingin melakukan sinergi.

Menjawab pertanyaan tadi sebagaimana layaknya kolaborasi, PSSI Itu menjelaskan apa itu PSSI, terdiri dari siapa stakeholder nya. Pertanyaan inti dari yang polisi ingin tahu dan itu sangat wajar karena kita posisinya itu menantikan pertemuan ini. Kita tidak hanya mengharapkan karena ada problem, tapi sudah long term sinergi dengan polisi, karena kami butuh bantuan pengamanan pertandingan sepak bola.

Kami jelaskan apa badan organisasi. PSSI itu kolektif kolegial terdiri dari legislatif diwakili oleh kongres, eksekutif diwakili oleh komite eksekutif (exco).

Administrasi diwakili oleh kesekretariatan jenderal, dan ada badan yang supporting komite exco. Komite tetap dan ada badan independen badan yudisial. Jadi saya jelaskan itu fungsi dan tugasnya. PSSI sangat menghargai itu untuk bisa kerja sama lebih lanjut.

Kenapa baru sekarang kerja samanya (dengan polisi) ketika ada masalah?

Itu jangan tanya ke saya.

Kenapa PSSI tidak aktif ketika ada indikasi dugaan pengaturan skor?

Kalau kita kerja sama dengan polisi dan mengetahui ada indikasi, itu dua hal yang berbeda. Dari zaman Pak Joko Driyono menjadi Sekjen PSSI, itu sudah berkali-kali kerja sama tapi tidak terbatas pada itu.

Ketika situasi itu nyaman, prevent (pencegahan) crime itu yang kita mau. Kalau ditanya sejarahnya seperti apa, bisa ditanya pengurus sebelum-sebelumnya.

Salah satu exco kita juga dari kepolisian dan itu bagian dari sinergi. Alhamdulillah yang terjadi saat ini sangat baik yang harus ditekankan adalah PSSI sebagai penegak regulasinya. Ini kabar baik bagi kita dan kita sangat menghargai, menghormati inisiasi kepolisian.

Kami menyambut baik inisiatif dari polisi (pembentukan Satgas). Mudah-mudahan dari masuknya ini kita menginginkan untuk keseluruhan lebih besar.

Bagaimana pandangan Anda tentang pengaturan skor yang terjadi di Liga 3? Apa sebenarnya yang menjadi pemicu?

Apa itu pengaturan skor? Ada perbedaan match fixing dan match manipulation. Posisinya yang dinamakan mengatur skor itu harus tepat skornya. Di dunia mana pun itu, hal yang sangat sulit dilakukan. Dengan adanya hal ini, jadi sulit dilakukan. Jadi kalau ditanya kenapa, itu seperti istilah kenapa di bis kota masih ada copet? Karena, ini problem olahraga secara keseluruhan. Sama seperti peristiwa kriminalitas di situasi yang tidak nyaman.

Tidak hanya IOC, FIFA, AFC, itu akan terus dan tidak akan pernah lepas, bagian dari pekerjaan kita untuk memerangi ini. Karena, ini bagian dari kalau menyetir ada kemungkinan tabrakan, maka harus ada airbag.

Sumber:Tempo.co

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed